![]() |
| courtesy of bloodydisgusting.com |
Salah satu yang saya tunggu dari film ini, black comedy. Bagaimana bisa saat tiba momen-momen berdarah kita diajak untuk tertawa. Aneh? Tenang, saya bukan tipe psikopat yang bisa tertawa melihat penderitaan orang lain. Tapi memang itulah yang saya bayangkan saat membaca review-review yang ada. Tertawa sambil melihat teror berdarah. Benar-benar akan menjadi tontonan unik, aneh, namun menyenangkan.
You’re Next mengambil horor spesialis home invasion slasher
seperti film The House on The Left (2009) atau The Purge (2013). Di sini para
penghuni rumah malang yang siap disatroni tamu tak diundang adalah keluarga
Davidson yang sedang merayakan ulang tahun perkawinan sang orang tua. Tak lupa
semua anak-anak keluarga Davidson datang bersama pacar mereka masing-masing. Suasana
yang awalnya hangat mulai berubah panas saat terjadi adu mulut. Dan saat itu
pula teror besar dimulai dari luar saat orang-orang bertopeng hewan menghabisi
keluarga Davidson satu per satu tanpa belas kasihan. Perlahan-lahan literan
darah disiramkan ke penonton sesuai aturan film slaher. Mungkin yang biasa
menikmati horor home invasion seperti ini mulai terasa basi ceritanya. Tapi mohon
sabar dulu sampai pertengahan film akan muncul kejutan / twist yang benar-benar
merubah jalan cerita ke arah yang lebih menarik lagi.
Adalah seorang Adam Wingard yang bertanggung jawab terhadap
film ini. Sejak 2004 dia lebih banyak menyutradarai horor-triller independen
dan mungkin yang paling dikenal saat dia menyutradarai dua segmen di film antologi
horor favorit saya V/H/S “Tape 56” dan “Phase I Clinical Trials” (Dia ikut main
di film ini). Di bagian naskah Simon Barrett sabar dalam mengenalkan anggota
keluarga Davidson, dan adegan-adegan selanjutnya pun tidak banyak basa-basi.
Setegas perannya menjadi salah satu pembunuh bertopeng di film ini.
Kabarnya sang sutradara The Raid, Gareth Evans-lah yang kesengsem
untuk membawa You’re Next ke Indonesia. Kita lihat kira-kira kekuatan ‘magis’
apa yang membuat film ini sangat menarik: Pertama ada racikan rasa pedas teror
berdarah-darah di-mix dengan sedikit rasa manis tawa. Benar-benar ditakar pas
sampai saya bisa ketawa ngakak saat adegan bacok-bacokan. Jarang sekali ada
film dengan paduan seperti itu masih dalam taraf serius tapi tidak sampai
benar-benar konyol seperti komedi slasher macam “Tucker & Dale vs Evil”.
Kemudian, jarang sekali sang korban yang biasanya wanita dan lemah mampu
melawan balik dengan kekuatan yang tak kalah sadis (atau malah lebih sadis). Terakhir,
tentunya kejutan besar di pertengahan dan akhir film yang benar-benar akan
membuat anda tercengang. Saran saya, semakin Anda belum tau ceritanya, akan
semakin menarik.
Oh ya film ini juga mengajarkan kita bagaimana sebaiknya
menjaga rumah apa lagi saat malam tiba dan bagaimana kita melakukan pembelaan
diri saat rumah disatroni orang tak bertanggungjawab dengan alat rumah tangga
seadanya. Tentunya setelah terlebih dahulu menghubungi pihak berwajib atau
bantuan tetangga sekitar dan semua yang disajikan di film ini tidak serta merta
ditiru mentah-mentah.
Jangan lupa bagi yang tertarik dengan closing credit kreatif.
Kita akan disuguhi foto-foto polaroid para cast yang berdarah-darah dan TKP dengan
denah rumah dimana mereka terluka/tewas.
*bukan untuk konsumsi mereka yang takut darah.
Sign up here with your email



Silakan memberi masukan atau komentar. ConversionConversion EmoticonEmoticon